Hero background
Latest News

Menyusuri Lorong Waktu dan Batas Suci lewat Pameran Seni "Layer Ruang: Doeloe, Doa, Dunia"

Sebuah ruang refleksi visual hadir di tengah kota Surabaya melalui pameran lukisan bertajuk "Layer Ruang: Doeloe, Doa, Dunia"

Published

SURABAYA – Sebuah ruang refleksi visual hadir di tengah kota melalui pameran lukisan bertajuk "Layer Ruang: Doeloe, Doa, Dunia". Pameran unik ini mempertemukan tiga kutub rasa yang berbeda namun saling mengikat: romantisme sejarah lokal, kedalaman spiritual, dan eksotisme lanskap mancanegara.


Memasuki ruang pameran, pengunjung langsung disambut oleh atmosfer "Doeloe". Bagian ini memamerkan sudut-sudut estetis Surabaya tempo dulu. Guratan kuas di atas kanvas menghidupkan kembali denyut nadi JembatanMerah, hiruk-pikuk Pelabuhan Kalimas, hingga arsitektur kolonial yang anggun. Sektor ini menjadi mesin waktu yang mengajak penikmat seni merawat ingatan kolektif kota.


Beranjak lebih dalam, suasana berubah khidmat di zona "Doa". Ruang ini menampilkan karya-karya bertema spiritual murni. Sang seniman berhasil memvisualisasikan keheningan, pencarian batin, dan keagungan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Melalui sapuan warna yang kontemplatif, kanvas-kanvas di area ini tidak sekadar menjadi objek visual, melainkan media meditasi bagi siapa saja yang memandangnya.


Perjalanan seni ini ditutup oleh kemegahan zona "Dunia". Koleksi di bagian ini membawa mata pengunjung melintasi batas negara. Keindahan arsitektur Eropa, eksotisme budaya Asia Timur, hingga sudut-sudut kotamoderndi seberang lautantersajiapik.Sektor ini merekam jejak kembara fisik sang seniman sekaligus memberikan perspektif global tentang keindahan universal.


ARTIST STATEMENT

Jonathan Irwan:

Sebagai seorang arsitek, salah satu kegemaran saya adalah menggambar/melukis gedung-gedung, suasana kota, serta detail-detail arsitektur yang seakan tidak pernah ada habisnya untuk di eksplorasi. Dalam perjalanan saya ke kota-kota dunia, saya selalu mencoba meluangkan waktu untuk merekam keindahan suasana melalui sketsa/ lukisan. Terkadang saya terlarut dalam aktivitas kota yang padat kendaraan, ramainya pejalan kaki, bahkan kios-kios kaki lima , menjadi subyek yang sangat menarik untuk dituangkan dalam karya lukisan. Di lain waktu, saya juga bisa sangat menikmati keheningan suasana pedesaan, pegunungan, atau desa di tepi danau dan hutan yang sejuk.

Media watercolor menjadi pilihan saya untukmengekspresikan karyasaya, karena selain efisien, watercolor mampumenghadirkan karyayang disaat yangsama sangat ekspresif dantak terduga. sangat menyenangkan ketika melihat hasil perpaduan warna padawatercolor yangsangat beragam efek nya.


Olivia Tanzil:

Karya-karya yang saya tampilkan berbicara tentang pertumbuhan spiritual—bagaimana kita bertumbuh melalui keraguan, tantangan, dan proses mengenal diri. Saya melihat kehidupan dengan sudut pandang yang sederhana dan naif, seperti cara anak kecil memandang dunia. Perspektif inner child ini membuat saya percaya bahwa di balik hal-hal yang tampak biasa, selalu ada makna yang lebih dalam.

Secara visual, sayamenggunakan simbol-simbol sederhana dan teknik akrilik diatas kanvas dengan pendekatan figuratif-surealis.

Benang merahseluruh karyaadalah tentang resiliensi, harapan, dan keberanian untukterus melangkah, karena setiap pengalaman membentuk pertumbuhan batinkita.


Hongky Zein:

Karya pertama: Cathedral of the Blessed Virgin Mary of Mount Carmel Malang

Dibuat dengan media Ink & Watercolor paper 300gsm, sketsa urban (urban sketch) ini merekam langsung atmosfer Jalan Ijen Malang, mengabadikan kemegahan Gereja Katedral Santa Maria dari Gunung Karmel yang merupakan gereja induk dan tempat takhta resmi Uskup Keuskupan Malang. Melalui goresanonthespot, karya ini menonjolkankeunikan fasad Art Deco yang langka—memisahkan diridari pakemGotik atau Klasik gereja kolonial pada umumnya. Objek bersejarah ini dirancang oleh arsitek Belanda R.Rijksen dan HenriLouis Joseph Marie Estourgie yang diresmikan 28 Oktober 1934, menjadikannya sebuah simbol modernisme visual bersejarah yang hidup di tengah dinamika kota hari ini.

Karya kedua: 77 FOOD YARD – PULAU TIKUS - PENANG

Dibuat dengan media Ink & Watercolor on Canvas, sketsa ini menampilkan masa lalu dan masa depan berbenturan di satu ruang. Kepulan asap kwetiau di ruko tahun 70-an ini mewakili kehangatan tradisi manusia, sementara bayangan gedung pencakar langit di belakangnya melambangkan modernitas yang dingin. Riuhnya atmosfer sarapan pagi di dekat Pasar Basah Pulau Tikus. Kehidupan lokal terekam jelas lewat visualisasi kerumunan pengunjung yang sedang menikmati kopi hangat, berpadu dengan kepulan asaptebal dariwajan seorang koki lokalyang sedang mengolah CharKuay Teow(kwetiau goreng) ikonik dengan aroma gosong gurih (wokhei) yangkhas.


Oei Lina Kumala:

Karya-karya yang saya tampilkan dalam pameran ini, dibuat pada masa pandemi, dimana saat itu tidak boleh keluar rumah. Tetapi diam di rumah tidak berarti kita tidak bisa “berjalan-jalan”. Strolling around bersama sketchers berbagai negara, melewati negara-negara melalui google street view. Menjelajahi tempat baru, pemandangan baru, dengan sudut pandang yang kita inginkan. Maka melalui karya-karya ini, saya mempersembahkan keindahan dunia melalui goresan medium watercolor on paper, mengajak para pengamat mengarungi lanskap lintas negara dan musim.

Eksplorasi dimulai darikemegahan Sheikh Zayed GrandMosque diAbu Dhabi, sebuah refleksi visual yang mengontraskan kecilnya eksistensi manusia di hadapan keagungan Sang Pencipta.

Perjalananberlanjut ke utara, menangkap kebekuan yang menawan di resor ski Norwegia dan Santa Claus Village, Finlandia, menonjolkan teknik cat air dalam merespons suasana hamparan salju.

Kontras dengan dinginnya musim dingin, kehangatan musim panas dihidupkan melalui dinamika komposisi asymmetrical balance pada Fairmont Le Château Frontenac, Quebec, serta ketenangan Lergue River di Lodeve, Prancis.

Secara keseluruhan, koleksi ini bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan sebuah simfoni visual yang merayakan keragaman dan keharmonisan arsitektur serta alam semesta kita.


Christian Ticualo:

Karya-karyalukis saya yang dipamerkan inimenggunakan eksplorasi media cat akrilik , cat air dan kopi

Khusus tema Surabaya lebih bercerita tentang tempat-tempat yang ikonik dan penting bagi perkembangan dan sejarah kota.Menghadirkan masa lalu dengan nuansa lukisan satu warna ( monochrome ) dan lukisan banyak warna. Saya tidak saja menghadirkan bangunan tetapi menciptakan suasana melalui kegiatan dan permainan cahaya yang dramatis. Ada nuansa kawasan dagang , pasar tradisional , tempat hiburan masa lalu dan daerah Pelabuhan.

Untuk sebuah karya Hanuman vs Rahvana saya melukiskan sebuah pertarungan epik dari wiracarita Ramayana yang sangat terkenal. Frame ini bukan sekedar pertempuran fisik antara raksasa dan kera sakti Hanuman. Melainkan symbol pertarungan abadi antara kebaikan ( Dharma ) dan kejahatan ( Adharma ) .

Benang merah dari karya-karya saya ini adalah bahwa saya ingin bercerita melalui karya Lukis visual . Berbicara melalui goresan kuas yang ekspresif , bermain dengan cahaya yang dramatis dan detail yang tersamar sehingga terdapat kedalaman refleksi.


Suyanti Prasetio:

Melalui pameran ini,saya bercerita tentang Surabaya, kota yangindah, unik,panas, silau, sekaligus semrawut. Kota yang penuh kontras, namun selalu memiliki ruang untuk dikenang. Tidak hanya tentang kota, saya juga ingin bercerita tentang alam dan satwa. Tentang hutan di musim gugur dengan warna-warnanya yangterasa magis, seolah berasal dari dunialain.

Bagi saya, setiap lukisan adalah cara sayamenyampaikan isikepala saya.

Mediayang paling sering saya pilih adalah cat air di atas kertas watercolor.Sesekali saya memadukannya dengan pensil warna, tinta, grafit, marker, atau media lain. Saya menyukai watercolor karena sifatnya yang luwes, ringan, dan mudah dibawa ke mana saja—memungkinkan saya menangkap cerita, kapan pun dan di mana pun cerita itu datang.


Aloysius Erwin:

Kumpulan karya yang saya tampilkan ini, bergerak seperti kontemplasi melintasi ruang dan waktu. Dari Surabaya yangmenyimpan jejakmasa lalu,Malioboro yangberdenyut pelan, hingga akhirnya tiba diIstiqlal sebagai ruang yangtransenden melampaui duniawi.

Pengalaman 'rasa' akansebuah tempat seringkali lebihmelekat danberkesan dibandingkan detail visualnya. Rasa yangmengendap menjadi memori.Pengalaman iniyang cobasaya tuangkan dalam bentuk ekspresi karya. Menuangkan memori rasa dalamsapuan warnadan garis.

Melalui media watercolor on paper yang ringan dan transparan, karya-karya ini tidak berusaha menjelaskan kota, melainkan mengajak untuk merasakannya. Rasa yang memeluk cahaya, bayangan, dan ruang kota. Rasa yang hadir sebagai memori dari sebuah perjalanan hidup.


Sudarman Angir:

Kompleks pura adat desa di Bali bagi mata awam bisa terlihat sebagai bangunan untuk kegiatan spiritual. Initidaklah keliru, hanya sajabagi penduduk desa tersebut fungsi puraadalah lebihluas daripada itu. Purabisa menjadi hub titiktemu sosial atau seremonial acara khusus.

Hal ini yang menarik saya untuk membuat sketsa-sketsa Pura ini, dimana hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya dan hubungan horisontal lateral manusia dengan sesamanya dapat muncul pada satu tempat. Pura adalah hub titik temu kosmologis vertikal-horisontal yang ada dan tumbuh terjalin bersama dalam keseharian penduduk desa.

Sketsa-sketsa ini merekam detail, cahaya, dan bayang-bayang, dibuat pada kertas cat air dengan media beragam pena dengan campuran berbagai tinta, cat air, juga menggunakan pensil grafit dan pastel.


Henry Siswanto:

Sesuai profesi sayasebagai architectural engineer, saya terbiasa bekerja dengan medium pensil dan ballpoint, dengan ketertarikan khusus pada penggambaran detail objek yang rumit dan presisi tinggi - sebuah kepekaan yang kemudian dibawake ranah tiga dimensi.

Dari kertas, eksplorasi berkembang ke logam. Saya menekuni pembuatan sculpture berbahan besi dan baja, mengubah plat dan batang logam menjadi figur-figur yang sarat lapisan makna, seperti yang tertuang pada karya-karya di pameran ini.

Vertical Root Sculpture - Ranting merekam jejak waktu. Akar adalah dulu, batang menjadi doa, cabang menjangkau dunia.Kehidupan terusbertumbuh melalui harapan yangtak pernah berhenti.

Ascended Temple Sculpture - Cahaya dari ruanggelap menjadisimbol doa yang menembus waktu.

Dulu adalah fondasi, doa menjadi cahaya, dunia menerima terang sebagai harapan bersama.

Parametric Sculpture - Figur berlapis menggambarkan identitas manusia yang terbentuk oleh dulu, diperdalam melalui doa, lalu hadir menghadapi dunia dengan kesadaran baru.

Glofish Sculpture -Transparansi dan lapisan warna menyambungkan ingatan, doa, dan ruang duniawi.


Indra Purnama:

Setiap kota menyimpan ingatan. Di Kota Lama Surabaya, ingatan itu berdiam di balik dinding yang menua, lengkung jendela, dan lorong-lorong yang setia merawat waktu. Bangunan-bangunan itu tidak sekadar berdiri; mereka terus menyimpan jejak kehidupan yang pernah singgah dan belum benar-benar pergi.

Dengan sebuah fountain pen, saya membiarkan tinta menemukan jalannya. Sketsa menjadi cara untuk memperlambat waktu: menunggu cahaya jatuh di atas tembok, mengikuti bayangan yang bergeser, mendengarkan sunyi yangmengendap, serta merasakan denyut kota yangmasih bersembunyi di antara batu dan bata. Setiap garis yang tak dapat dihapus adalah kesaksian atas satu perjumpaan yang tak akan pernah terulang.

Sejalan dengan tema Trilogi Doeloe, setiap lembar sketsa adalah percakapan dengan masa lalu—bukan untuk menghidupkannya kembali, melainkan untuk menyadari bahwa ia sesungguhnya tak pernah pergi. Ia tetap hadir dalam retakan dinding, pada tekstur yang menua, dan pada ruang-ruang yang diam-diam masih menyimpan cerita.

Melalui rangkaian sketsa ini, saya mengajak kita memandang bangunan-bangunan lama bukan sebagai sisa masa silam, melainkan sebagai napas kota yang terus bertahan. Sebab selama masih ada yang memandangnya dengan penuh perhatian, menggambarnya dengan penuh kesabaran, dan merawatnya dengan penuh kepedulian, warisan itu akan terus hidup—bukan hanya di dalam batu dan tembok, tetapi juga di dalam ingatan kita bersama.


Penny Setyowati:

Melalui kedua karyacat airini sayaingin mengeksplorasi atmosfer dan arsitektur kota Surabaya sebagai ungkapan kerinduan terhadap kota kelahiran.

Permainan cahaya, bayangan, dan atmosfer menjadi bahasa utama untuk menghadirkan pengalaman ruang yang personal (sense of place).